MEMPERSIAPKAN GENERASI ISLAM BERKUALITAS
oleh : Tgk.H. Abu Bakar Ismail
(Ketua Majelis
Permusyawaratan Ulama Kota Lhokseumawe)
A.
Pendahuluan.
Sebagai
sebuah kepercayaan, agama Islam menaruh perhatian yang sangat besar terhadap
keberlangsungan generasi penerus. Perhatiannya tersebut tidak hanya terbatas
kepada permasalahan ukhrawi saja, namun juga pada permasalahan duniawi.
Sehingga salah besar bila ada yang beranggapan bahwa Islam hanya mementingkan
kemampuan kemampuan beragama saja tanpa memperhatikan kemampuan menghadapi
dunia.
Rasulullah SAW berpesan kepada kita untuk mempersiapkan
generasi penerus yang mampu menghadapi tantangan zaman, beliau mengingatkan
kita bahwa zaman yang dihadapi oleh anak-anak kita kelak tidaklah sama dengan
tantangan yang dihadapi oleh kita sekarang ini. Maka mempersiapkan generasi
Islam yang berkualitas untuk menghadapi tantangan zaman adalah suatu keharusn.
Untuk
mencapai tujuan ini, maka yang paling berperan tidak lain dan tidak bukan
adalah orang tua si anak. apabila orang tuanya baik dalam mendidik seorang
anak, maka anak tersebut akan tumbuh menjadi anak yang shalih dan shalihah.
Namun sebaliknya, apabila orang tua gagal mendidik anak, maka akan muncullah
generasi-generasi yang gemar melakukan kemaksiatan dan diselimuti dengan
kebodohan.
Kebodohan
yang paling kita takuti adalah kebodohan terhadap mengenal Allah SWT. Rasulullah
SAW bersabda:
مَا
مِنْ مَوْلُودٍ إِلاَّ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ
يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ
Artinya : “Tiada seorangpun yang dilahirkan kecuali dilahirkan pada fithrah
(Islam)nya. Kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani atau
Majusi. [HR. al-Bukhâri dan Muslim]
Berdasarkan hadits diatas, maka dapat
kita pahami bahwa, pada dasarnya seorang anak yang dilahirkan jiwa dan
fikirannya bersih dari apapun dan kedua orang tuanyalah yang menjadikannya
secara langsung atau tidak langsung menjadi manusia yang berfikiran seperti
kaum yahudi, Nasrani atau Majusi.
Mengingat hal tersebut, maka perlu
bagi kita selaku calon suami-istri atau calon orang tua untuk dapat mengetahui
bagaimana konsep anak shalih dan shalihah? Bagaimana peran orang tua dalam
membentuk anak shalih? dan bagaimana pola asuh yang seharusnya dijalankan?
Setelah ketiga konsep ini diketahui dan dipahami, maka diharapkan kepada para
orang tua untuk menerapkan konsep-konsep tersebut untuk menyiapkan generasi Islam
yang berkualitas.
B.
Konsep
Anak Shalih/Shalihah.
Kedudukan Anak dalam Pandangan Islam, antara lain sebagai perhiasan atau kesenangan,
sebagai musuh, ujian, fitnah, sekaligus
amanah, penentram dan penyejuk hati orang tuanya. Anak adalah anugerah Allah
SWT kepada setiap insan terutama kepada setiap muslim, merupakan investasi yang
sangat menguntungkan bagi kedua orang tuanya baik di dunia maupun di akhirat.
Agar anak menjadi investasi yang menguntungkan bagi kehidupan di dunia maupun
di akhirat orang tuanya, maka dibutuhkan proses dan modal yang perlu
dipersiapkan. Sehingga penting kiranya orang tua mengetahui kiat-kiat
menciptakan anak shalih.
Perhatian besar para Nabi terhadap
pendidikan keluarga dan anak-anak mereka banyak dikisahkan dalam Al-Qur’an. Kisah Nabi Ibrahim, Ya’qub
AS dan Nabi Zakaria adalah dinatara contoh kisah tentang bagaimana para Nabi
mendidik anak-anak mereka. Nabi Zakaria berdoa kepada Rabbnya keturunan yang
suci akhlaknya dan baik budi pekertinya, agar dengan keberadaan mereka kenikmatan
agama dan dunia menjadi sempurna. Ini merupakan nasihat kepada umat manusia untuk berdoa
mendapatkan keturunan yang shalih.
1.
Ciri-ciri anak shalih menurut Al-quran
a.
Mendirikan shalat, penyabar dan
bertakwa, dalilnya :
وَأْمُرْ اَهْلَكَ
بِالصَّلٰوةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَاۗ لَا نَسْـَٔلُكَ رِزْقًاۗ نَحْنُ نَرْزُقُكَۗ
وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوٰى
Artinya :Dan perintahkanlah keluargamu
melaksanakan salat dan sabar dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki
kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat (yang baik di
akhirat) adalah bagi orang yang bertakwa. (QS. Thaha: 132)
b. Tidak
menyekutukan Allah, dalilnya :
وَاِذْ قَالَ لُقْمٰنُ لِابْنِهٖ وَهُوَ
يَعِظُهٗ يٰبُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللّٰهِ ۗاِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيْمٌ
Artinya : “Dan
(ingatlah) ketika Lukman berkata kepada anaknya, ketika dia memberi pelajaran
kepadanya, ”Wahai anakku! Janganlah engkau mempersekutukan Allah, sesungguhnya
mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.”(QS.
Lukman : 13)
c. Berbuat baik kepada orang tua, dalilnya:
وَوَصَّيْنَا
الْاِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِۚ حَمَلَتْهُ اُمُّهٗ وَهْنًا عَلٰى وَهْنٍ
وَّفِصَالُهٗ فِيْ عَامَيْنِ اَنِ اشْكُرْ لِيْ وَلِوَالِدَيْكَۗ اِلَيَّ
الْمَصِيْرُ
Artinya : “Dan Kami perintahkan kepada manusia (agar berbuat baik)
kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang
bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam usia dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku
dan kepada kedua orang tuamu. Hanya kepada Aku kembalimu” (QS.Lukman: 14)
2.
Karakter anak shaleh
a.
Tawasuth
Tawasuth adalah sikap berdiri ditengah, tidak ekstrim kiri
atau ekstrim kanan. Hal ini didasari pada firman ALLAH swt :
وَكَذٰلِكَ جَعَلْنٰكُمْ اُمَّةً وَّسَطًا
لِّتَكُوْنُوْا شُهَدَاۤءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُوْنَ الرَّسُوْلُ عَلَيْكُمْ شَهِيْدًا
ۗ
Artinya
: Dan demikian pula Kami telah menjadikan kamu (umat Islam)
”umat pertengahan” agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar
Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu”
(QS.al-Baqarah: 143)
b.
Tawazun
Tawazun adalah seimbang dalam menghadapi segala sesuatu,
apakah itu berkenaan dengan kehidupan dunia maupun akhirat. Firman Allah
SWT :
لَقَدْ اَرْسَلْنَا رُسُلَنَا بِالْبَيِّنٰتِ
وَاَنْزَلْنَا مَعَهُمُ الْكِتٰبَ وَالْمِيْزَانَ لِيَقُوْمَ النَّاسُ بِالْقِسْطِۚ
Artinya : “Sungguh, Kami telah
mengutus rasul-rasul Kami dengan bukti-bukti yang nyata dan kami turunkan
bersama mereka kitab dan neraca (keadilan) agar manusia dapat berlaku adil”
(QS.al-Hadid: 25)
c.
I’tidal
I’tidal adalah tegak lurus dalam memegang
prinsip keislaman untuk menegakkan kebenaran dan keadilan. Firman Allah SWT :
يٰٓاَيُّهَا
الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُوْنُوْا قَوَّامِيْنَ لِلّٰهِ شُهَدَاۤءَ بِالْقِسْطِۖ
وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَاٰنُ قَوْمٍ عَلٰٓى اَلَّا تَعْدِلُوْا ۗاِعْدِلُوْاۗ هُوَ
اَقْرَبُ لِلتَّقْوٰىۖ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌۢ بِمَا
تَعْمَلُوْنَ
Artinya : “Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah
kamu sebagai penegak keadilan karena Allah, (ketika) menjadi saksi dengan adil.
Dan janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku
tidak adil. Berlaku adillah. Karena (adil) itu lebih dekat kepada takwa. Dan
bertakwalah kepada Allah, sungguh, Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu
kerjakan”.(QS.al-Maidah:
8)
d.
Tasamuh
Tasamuh adalah sikap toleransi dan
menghargai orang yang memiliki prinsip hidup yang berbeda. dasArnya adalah
firman Allah SWT:
فَقُوْلَا
لَهٗ قَوْلًا لَّيِّنًا لَّعَلَّهٗ يَتَذَكَّرُ اَوْ يَخْشٰى
Artinya : “maka berbicaralah kamu berdua kepadanya
(Fir‘aun) dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan dia sadar atau
takut”.(QS. Thaha: 44)
Dengan menghadirkan ciri-ciri dan
karakter anak shaleh dalam jiwa anak-anak kita, diharapkan kita sebagai orang
tua mendapat pahala yang terus mengalir meskipun kita telah meninggalkan dunia
ini. Selain dari itu, sebagai generasi Islam yang berkualitas, seorang anak
yang shalih harus menjaga 3(tiga) jenis ukhuwah, yaitu:
1. Ukhuwah
Islamiyah.
Ukhuwah Islamiyah
adalah sebuah sikap persaudaraan yang memandang kepada kesamaan kepercayaan dan
agama, yaitu agama Islam. Meskipun terdapat perbedaan dalam furu’iyah, namun
kita tetap satu dalam aqidah.
2. Ukhuwah
Wathaniyah.
Ukhuwah
Wathaniyah adalah sebuah sikap persaudaraan yang didasari oleh kesamaan tanah
air atau negara. Rasulullah SAW telah mempraktekkan ukhuwah wathaniyah dengan
adanya Piagam Madinah. Dalam piagam madinah, seluruh penduduk Madinah
tanpa memandang apapun agamanya wajib bersama-sama melindungi kota Madinah dari
ancaman apapun.
3. Ukhuwah
Basyariyah.
Ukhuwah
basyariyah adalah sebuah sikap persaudaraan yang didasari oleh kesamaan status
sebagai manusia. Islam sebagai agama rahmatan lil ‘alamin haruslah
menjadi sumber keselamatan dan kedamaian bagi seluruh manusia. Allah SWT
melarang perbuatan yang merusak persaudaraan sesama manusia seperti menghina
dan memperolok-olokkan salah satu kaum atau kelompok masyarakat.
C. Peran Orang Tua Dalam Membentuk Anak Shalih.
Untuk mendapatkan anak shalih tidak
bisa lepas dari faktor-faktor pembentuk akhlak anak. Rasulullah saw mengajarkan
bahwa ada dua hal potensial yang akan mewarnai dan membentuk kepribadian anak
yaitu orang tua yang melahirkannya (faktor Internal) dan lingkungan yang
membesarkannya (faktor eksternal).
a.
Faktor Internal
Faktor internal berasal dari diri anak
yang diwariskan oleh kedua orang tuanya yaitu ibu dan ayahnya, asupan makan dan
minum anak, serta perilaku kedua orang tuanya pada masa sebelum dan selama anak
dalam kandungan. Untuk mendapat anak yang soleh dan solehah tidak dapat tidak
mereka (ibu bapak) perlu solehkan diri mereka dahulu sebelum menikah. Oleh
karena itu barang siapa yang telah berniat untuk berumah tangga, maka
peliharalah kewajiban-kewajiban yang telah difardhukan pada seorang muslim,
perbanyak amalan sunat dan berdoa agar Allah mengaruniai zuriat soleh\solehah.
Pilih pasangan yang faham agama dan berakhlak mulia, yaitu wanita sholehah.
b.
Faktor eksternal
Faktor eksternal adalah faktor dari
luar yang membentuk pribadi anak yaitu lingkungan tempat tumbuh dan
berkembangnya anak setelah proses kelahiran seperti
keluarga besar, teman, pendidikan formal dan pola hidupnya.
Dengan memperhatikan kedua faktor
diatas, maka sebagai sebagai orang tua, kita harus mampu menanamkan nilai-nilai
keislaman kepada anak-anak kita sejak dini. Diantara metode penanaman nilai-nilai
keislam tersebut adalah :
a.
Menjaga kesehatan jasmani dan rohani si anak.
Sebagai orang
tua, kita harus menjaga kesehatan anak baik secara jasmani maupun rohani.
Menjaga kesehatan jasmani berarti menjaga kesehatan anak agar dapat tumbuh dan
berkembang dengan baik, sehingga menjadi anak yang sehat. Adapun menjaga
kesehatan rohani adalah memenuhi kebutuhan ruhaniyah/psikologis anak seperti
rasa kasih sayang dan perlindungan dari orang tua. Dengan adanya rasa kasih
sayang dari orang tua, maka perkembangan jiwa seorang anak akan tumbuh dengan
sempurna.
b.
Memberikan contoh teladan.
Keluarga
adalah faktor utama yang membentuk pribadi anak yaitu lingkungan tempat tumbuh
dan berkembangnya anak setelah proses kelahiran. Orang tua wajib memberikan contoh teladan yang baik
kepada anak, karena secara psikologis anak akan mengikuti dan mencontohi orang
tuanya.
c. Membiasakan melaksanakan ajaran Islam.
Dalam
keluarga ada unsur pengasuhan, pendidikan, nafkah pada anak. Memerintahkan anak untuk menjalankan jaran Islam merupakan
satu keharusan. firman Allah SWT dalam surat Lukman ayat 17, yang
artinya: "Hai anakku, dirikanlah
shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari
perbuatan yang munkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya
yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah)".
D.
Bentuk Pendidikan
Terhadap Anak.
Ada empat pokok pendidikan yang harus ditanamkan
kepada anak:
(1). Membiasakan Beribadah
Memerintahkan shalat
kepada anak sebagai bentuk pembiasaan shalat merupakan sesuatu yang amat penting
dalam kehidupan mereka, karenanya hal itu juga ditekankan oleh Nabi kita
Muhammad Saw, di dalam suatu hadits beliau bersabda: “Suruhlah anak-anakmu mengerjakan shalat ketika mereka berumur tujuh
tahun. Dan pukullah mereka jika tak mau mengerjakannya ketika mereka telah
berumur sepuluh tahun.” (HR. Abu Daud).
(2) Melibatkan Anak Dalam Amar Ma’ruf.
Kebaikan
merupakan sesuatu yang pasti diketahui oleh setiap orang, maka kebaikan itu
disebut juga dengan ma'ruf yang artinya melakukan apa yang disebut dengan amar
ma'ruf (memerintahkan yang baik) kepada orang lain.
Di dalam Al-Qur'an Allah berfirman yang artinya:
"Hai orang-orang yangberiman,
mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat. Amat besar kebencian di
sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan" (QS ash-Shaff:2-3). Bila seorang anak dilibatkan dalam
memerintahkan kebaikan, kepada orang lain, paling tidak dia akan mencintai
kebaikan itu untuk kepentingan dirinya sendiri.
(3) Melibatkan Anak Dalam Nahi Munkar.
Manusia pada
dasarnya akan selalu mengingkari segala bentuk yang tidak benar, ini sebabnya
yang tidak benar atau yang bathil itu disebut dengan munkar. Namun karena
manusia seringkali dikuasai oleh hawa nafsunya, sesuatu yang mestinya diingkari
malah dilakukannya. Oleh karena itu di dalam Islam ada perintah untuk melakukan
nahi munkar (mencegah kemunkaran) dan seorang anak harus dilibatkan dalam
aktivitas nahi munkar itu, karena tugas adalah tugas setiap muslim yang sejak kecil seorang anak sudah
diikutsertakan di dalamnya. Rasulullah Saw bersabda: “Barangsiapa melihat kemunkaran, hendaklah dia mencegah dengan
tangannya, bila tidak mampu hendaklah dia mencegah dengan lisannya dan bila
tidak mampu juga hendaknya dia mencegah dengan hatinya, itulah selemah-lemahnya
iman.” (HR.Muslim).
(4) Menanamkan Kesabaran Atas
Kesulitan Hidup.
Manakala
seseorang memiliki kesabaran dalam hidupnya, maka Allah akan selalu bersama
dengannya, Allah berfirman yang artinya: "Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai
penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar" (QS
al-Baqarah:153). Nabi
memberikan arahan dan dorongan serta serta cara menerapkannya bagi anak-anak
kita: “ Didiklah anak-anak kalian kepada
tiga hal; yang pertama untuk cinta kepada nabi kalian, yang kedua untuk cinta
kepada keluarganya dan yang ketiga untuk mahir membaca Al Quran” (HR. Dailami)
E.
Kesimpulan
1.
Setiap orang tua wajib mempersiapkan
diri untuk mendidik anak-anaknya menjadi anak shalih/shalihah.
2.
Anak yang shalih adalah anak yang
berbakti kepada kedua orang tua dan bermanfaat bagi agama, nusa dan bangsa.
3.
Kualitas generasi mendatang sangat
tergantung kepada bagaimana orang tua mendidik anak anaknya.
4.
Langkah pertama untuk memiliki anak
yang shaleh adalah dengan menanamkan keshalihan pada diri sendiri terlebih
dahulu.
WASSALAM
Comments