AMANAH: BUKTI KEJUJURAN MUKMIN
AMANAH: BUKTI
KEJUJURAN MUKMIN
Oleh: ALAMSYAH
Arti Amanah
Kata amanah dalam bahasa Arab
berasal dari amina ya'manu amaanan wa amaanah yang berari ithmi'nan (tenang)
dan tidak takut. Karena amanah itu menunjukkan tsiqah (kepercayaan) dan tsiqah
itu merupakan ketenangan. Sehingga orang yang amanah, yaitu Amin, adalah orang
yang di-tsiqahi (dipercaya) dan tenang, serta tidak pernah khawatir dan takut.
Seorang pemimpin yang amanah
pasti akan dipercaya dan disukai oleh rakyatnya. Tingkat elektabilitasnya juga
akan sangat tinggi dan akan selalu mendapatkan kepercayaan dan tempat di hati
masyarakat. Sebab, pemimpin atau pejabat yang amanah pasti tidak akan pernah
membuat kebijakan kecuali selalu mengedepankan kemaslahatan/kepentingan
rakyatnya.
Paradigma kepemimpinannya pun
berdasar pada ungkapan "Sayyidu'l qaum khaadimuhum", yang artinya,
pemimpin kaum atau masyarakat adalah pelayan mereka. Dengan demikian, ia tidak
akan pernah berpikir untuk korupsi dan kolusi serta memperkaya diri sendiri dengan
menghalalkan segala cara, dan membiarkan rakyatnya hidup dalam kemiskinan dan
serba kekurangan. Karena ia sadar betul yang namanya amanah pasti ada
mas'uliyah (tanggung jawab), baik di hadapan rakyatnya maupun, terlebih lagi,
di hadapan Tuhannya, Allah swt pada hari kiamat nanti.
Amanah termasuk salah satu
ajaran dan sifat mulia yang sangat dianjurkan oleh agama Islam. Ia adalah salah
satu kanjun (pusaka) ajaran Islam dan pilar yang menyanggah kekokohan dan
kekuatan agama seseorang. Bahkan, din (agama) itu sendiri semua ajarannya pada
hakikatnya adalah amanah.
Oleh karena itu, ketika sifat
amanah ini tercerabut dalam diri seseorang, keluarga atau bangsa, maka hancur
dan robohlah 'bangunan' Islam seseorang, keluarga dan bangsa tersebut. Maka,
menegakkan sifat amanah dalam kehidupan sesungguhnya sama dengan menegakkan
agama.
Amanah,
bagi Orang Mukmin
وَ الَّذينَ هُمْ لِأَماناتِهِمْ وَ
عَهْدِهِمْ راعُونَ
artinya :"Dan orang-orang yang
memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya," (QS Al-Mu'minuun
[23]: 8)
Ayat kedelapan surat
Al-Mu'minuun di atas menjelaskan pentingnya sifat amanah yang merupakan salah
satu dari enam sifat orang-orang beriman yang beruntung dan berbahagia,
sebagaimana dinyatakan pada awal surat, "Sesungguhnya beruntunglah
orang-orang yang beriman," (QS Al-Mu'minuun [23]: 1).
Hal ini menunjukkan, amanah
adalah bukti kejujuran keimanan seseorang. Maka, iman harusnya menjadikan
seseorang amanah, dan amanah harusnya merupakan ciri dan sifat yang melekat
pada seorang yang beriman (Mukmin). Sebab, amanah satu akar kata dengan iman.
Lawan dari amanah adalah khianat. Sehingga ketika seseorang tidak amanah alias
khianat, maka tidak pantas ia menjadi Mukmin, sebab khianat adalah ciri dan
sifat yang melekat pada orang munafik.
Dalam kajian Imam Ibnu Katsir
rahimahullah maksud ayat tersebut adalah apabila mereka diamanahi (dipercaya),
mereka tidak pernah khianat, melainkan menunaikan/menyampaikan amanat itu
kepada yang berhak menerimanya. Dan apabila mereka berjanji atau mengadakan
suatu akad perjanjian, mereka menepatinya (Tafsir Ibnu Katsir IV/7).
Sebagaimana firman Allah swt, "Sesungguhnya Allah menyuruh kamu
menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya" (QS An-Nisaa' [4]:
58). Dan firman-Nya, "Hai orang-orang yang beriman, penuhilah akad-akad
itu [yakni akad (perjanjian) mencakup: janji prasetia hamba kepada Allah dan
perjanjian yang dibuat oleh manusia dalam pergaulan sesamanya]," QS
Al-Maaidah [5]: 1).
Maka, menunaikan amanah dan
menepati janji adalah sifat orang yang beriman. Sedangkan khianat dan
mengingkari janji serta tidak menepati isi akad perjanjian, baik dalam
transaksi akad jual beli, sewa menyewa, atau perserikatan (syirkah), atau yang
lainnya, adalah sifat orang munafik sebagaimana yang disinggung oleh Rasulullah
saw dalam sabdanya, "Tanda orang munafik itu ada tiga; apabila berbicara
ia berdusta, apabila berjanji ia tidak menepatinya dan apabila diamanahi
(diberi amanah) ia khianat," (HR Bukhari dan Muslim).
Allah swt pun berfirman,
"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul
(Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang
dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui," QS Al-Anfaal [8]: 27).
Nabi Muhammad saw mampu
mengubah dunia dan membangun peradaban umat manusia sehingga seluruh lorong
jagat raya tersinari oleh sinar Islam. Rahasianya, selain karena taufik dan pertolongan Allah
swt adalah karena beliau memiliki sifat amanah.
Bahkan, begitu populernya Rasulullah saw dengan sifat amanah ini
sampai-sampai, oleh musuhnya, beliau diberi gelar Al-Amin, orang yang amanah atau bisa
dipercaya.
Sebaliknya, keterpurukan dan
kehancuran seseorang, keluarga, masyarakat atau bangsa juga karena mengabaikan
(atau tidak) amanah.
Ayat di atas menjelaskan
betapa pentingnya amanah dalam mengantarkan seseorang kepada keberuntungan dan
kesuksesan dunia dan akhirat.
Comments